Senin, 10 Agustus 2015

Layang layang Kaghati Kolope

Layang layang Kaghati Kolope




Semua menduga bahwa layang-layang tertua di dunia berasal dari Cina. Namun dugaan itu dipatahkan oleh Wolfgang Beck, ilmuwan peneliti layang-layang dan pakar aerial photography Jerman yang telah mengunjungi gua Sugipatini desa Liang Kobori kabupaten Muna Timur di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. 



Di dinding gua yang sudah berusia lebih dari 10.000 tahun itu, Wolfgang Beck menemukan sebuah lukisan prasejarah berusia lebih dari 4000 tahun melukiskan adegan seorang manusia sedang melayangkan sebuah layang-layang yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai Kaghati Kolope. Wolfgang Beck menulis penemuanya di sebuah majalah Jerman, sehingga sejak saat itu masyarakat internasional pecinta layang-layang menobatkan Kaghati Kolopet sebagai layang-layang tertua di planet bumi ini.



Kaghati dalam bahasa Muna berarti layang-layang, dan Kolope adalah nama dedaunan yang digunakan sebagai bahan layang-layang dan Kolope adalah nama dedaunan yang digunakan sebagai bahan layang-layang khas pulau Muna tersebut. Menurut kisah tradisional masyarakat Liang Kabori Sei Pulau Muna, layang-layang adalah permainan petani dimana mereka menjaga kebun sambil bermain layang-layang. Masyarakat Pulau Muna juga percaya bahwa layang-layang berfungsi sebagai payung yang akan menjaga pemiliknya dari sengatan sinar matahari bila ia meninggal dunia. 



Ketika si pemilik ini meninggal dunia, arwahnya berpulang dengan berpegangan pada tali layangan dan bernaung di bawah layang-layang tersebut. Sampai masa di abad XXI ini, Kaghati Kolope masih dilayangkan oleh para petani di Pulau Muna terutama setelah masa panen. 



Angin yang ideal untuk melayangkan layangan di Pulau Muna adalah bulan Juni-September. Pada periode tersebut angin timur bertiup kencang sehingga mampu menerbangkan layang-layang selama 7 hari tanpa pernah diturunakn. Bila selama 7 hari layang-layang yang di terbangkan tidak jatuh, maka si pemilik layang-layang akan menggelar syukuran. 
Pulau Muna yang sekawasan dengan daerah pariwisata nasional Wakatobi telah beberapa kali memperoleh kehormatan menjadi tuan rumah festival layang-layang internasional. Karena dibuat dari bahan dedaunan maka layang-layang Kaghati Kolope memang memiliki kelebihan ketimbang layang-layang kertas yang muda rusak terkena air hujan. 



Di tenah hujan badai pun, layang-layang Kaghati dapat bertahan melayang di udara sampai tujuh hari tanpa pernah diturunkan. Tak heran bahwa Kaghati Kolope telah berulang kali menjuarai festival layang-layang internasional. 
Masyarakat Bugis memang memiliki peradaban dan kebudayaan tergolong tertua di planet bumi. Di dinding gua prasejarah lembah Kanguru di utara benua Australia saya sempat melihat lukisan prasejarah yang melukiskan kaum pelayar dan pedagang Bugis sudah mengunjungi benua Australia bagian utara jauh sebelum James Cook dengan armadanya mendarat di kawasan selatan kota Sydney di bumi Australia “baru” menjelang akhir abad XVIII . Banyak kata-kata berasal dari bahasa Bugis sampai masa kini masih digunakan oleh kaum aborijin di kawasan utara Australia.

Minggu, 09 Agustus 2015

Monumen Simpang Lima Gumul mirip landmark Paris

Monumen Simpang Lima Gumul mirip landmark Paris


Bermimpi Ingin Datang Ke Paris?! Datang Dulu Ke Simpang Lima Gumul, Yang Memiliki Monumen Yang Mirip Dengan Arc De Triomphe



Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri


Sudahkah kalian tahu bahwa ternyata kota Kediri memiliki bangunan yang mirip dengan Arc de Triomphe di Paris, Perancis. Monumen yang dijadikan sebagai ikon kota ini diberi nama Monumen Simpang Lima Gumul. Monumen Simpang Lima Gumul merupakan bangunan seluas 804 meter persegi dengan tinggi 25 meter dan terdiri dari 6 lantai. Sama halnya dengan Monas di Jakarta, monumen ini juga sering dijadikan sebagai tempat diadakannya berbagai festival serta beberapa kegiatan menarik yang dapat dinikmati oleh warga Kediri dan sekitarnya



Arc De Triomphe di Paris, Perancis

Sabtu, 08 Agustus 2015

Pantai Kedung Tumpang di Tulungagung

Pantai Kedung Tumpang di Tulungagung


Bali mungkin boleh bangga punya kolam renang alami Angel's Billabong yang sangat indah. Namun Tulungagung nggak mau kalah dan punya pantai Kedung Tumpang dengan kolam alami yang bisa bikin kamu melongo. Ya, pantai yang kini sedang populer itu punya kolam alami di tepi tebing yang sangat indah. Nggak percaya? Intip deh sederet foto berikut ini.




Selamat datang di gugusan tebing karang Kedung Tumpang. Lokasi ini membentang luas dari sisi barat pantai Blabak hingga sisi timur pantai Glogok di Tulungagung sana.




Karena gugusan tebing karang ini tak punya pasir, beberapa orang menilai sebutan pantai untuk Kedung Tumpang tidak pas.




Yang membuat Kedung Tumpang sangat istimewa adalah di sepanjang gugusan tebing karang itu ada kolam-kolam alami yang super jernih dan cantik.




Kalau kamu tak tahu, kolam-kolam itu terbentuk alami dari erosi oleh ombak laut sehingga tampak luar biasa menggoda.




Tak heran jika Kedung Tumpang kini menjadi populer sekali di Tulungagung. Berniat mencoba lompat ke kolam yang indah dengan deburan ombak laut di depanmu?




Hanya saja untuk berenang di Kedung Tumpang ini kamu harus waspada. Kamu hanya bisa berenang saat kondisi laut tengah surut.




Kalau kamu ngotot renang di kolamnya saat laut tengah pasang, maka ombak besar bakal menghantam keras tebing karang dan tumpah ke dalam kolam-kolam alami ini.




Bisa dibayangkan dong bahayanya ombak-ombak besar itu jika menyeret kamu begitu saja dan dibawa ke samudera?




Untuk bisa mencapai kolam-kolam cantik ini, kamu harus cukup berjuang. Karena dari tempat parkir kendaraan kamu harus jalan kaki menuruni bukit sekitar 30 menitan.




Kedung Tumpang sendiri berada di desa Pucanglaban, Tulungagung. Kamu bisa berangkat dari kota Blitar, Kediri bahkan Malang untuk menuju tempat luar biasa ini.




Karena jalanan agak curam, kamu harus menggunakan sepatu atau sandal gunung. Jangan berdandan ala anak mall seperti mengenakan heels atau sandal jepit belaka.




Dan yang paling penting, karena Kedung Tumpang ini masih alami, kamu tak boleh buang sampah sembarangan atau membuat tulisan coretan alay yang membuat tempat ini kehilangan pesona. Selamat berlibur!

Jumat, 07 Agustus 2015

Legenda Gunung Slamet

Legenda Gunung Slamet


Gunung Slamet awalnya bernama Gunung Gora. Seorang pangeran bernama Syeh Maulana mengubah nama gunung setelah ia mendapatkan keselamatan di sana. Singkat cerita sehabis melaksanakan ibadah Solat Subuh, Syeh Maulana melihat cahaya yang sangat terang di langit. Ia tertarik dan akhirnya mengikutinya hingga sampai di pesisir pantai Gresik, Jawa Timur. Saat itu cahaya telah hilang. Namun hari berikutnya muncul cahaya di sekitaran pantai Pemalang, Jawa Tengah. Syeh Maulana mengikuti lagi cahaya aneh itu.




Sebelum sampai tempat, Syeh Maulana mengalami gatal seluruh tubuh yang membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya ia memohon petunjuk dan diberi mimpi agar mengunjungi Gunung Gora. Di sana Syeh Maulana akhirnya mandi di pancuran air panas yang membuatnya sembuh dari penyakit. Ia akhirnya memutuskan untuk menetap di daerah itu dan mengubah nama Gunung Gora menjadi Gunung Slamet. Karena telah menyelamatkannya.




Selain itu, sebuah legenda menyebutkan jika Gunung Slamet adalah gunung yang memberi keselamatan bagi warga sekitar. Jika sampai gunung ini meletus artinya bencana besar akan terjadi dan membuat Pulau Jawa akan pecah menjadi dua bagian sama besar. Saat ini Gunung Slamet digunakan sebagai tempat wisata dengan pemandian terkenalnya Baturaden.

Kamis, 06 Agustus 2015

Legenda Gunung Kemukus

Legenda Gunung Kemukus


Banyak sekali versi yang beredar mengenai legenda Gunung Kemukus yang terletak di Jawa Tengah ini. Salah satu versi yang banyak diketahui orang adalah kisah hubungan gelap antara Pangeran Samudro dan Ibu tirinya. Keduanya melakukan hubungan badan di Gunung Kemukus namun ketahuan. Akhirnya mereka dibunuh dan disemayamkan di salah satu bagian gunung. Saat ini Gunung Kemukus justru digunakan sebagai lokasi prostitusi terselubung dengan latar belakang kisah Pangeran Samudro.




Dipercaya jika melakukan hubungan badan dengan bukan pasangannya, keinginan dan harapan akan dikabulkan. Akhirnya banyak orang berduyun-duyun datang ke sini untuk mencoba ritual nakal itu. Akibat dari adanya legenda agak nyeleneh ini, banyak sekali bermunculan lokalisasi dadakan di Gunung Kemukus. Tujuannya hanya satu, menjembatani pengunjung untuk melakukan ritual uniknya: bercinta tujuh kali dengan bukan pasangan! Edan!

Rabu, 05 Agustus 2015

Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Legenda Gunung Tangkuban Perahu


Gunung Tangkuban Perahu yang terletak di Jawa Barat selalu identik dengan legenda Sangkuriang. Anda mungkin masih ingat cerita tentang Dayang Sumbi yang menikahi anjing sakti karena sumpahnya sendiri. Dari pernikahan itu ia dikaruniai anak dan dinamai Sangkuriang. Suatu ketika Sangkuriang membunuh anjing bernama Tumang yang sebenarnya ayah kandungnya sendiri. Sang ibu marah dan memukulkan centong nasi ke kening Sangkuriang hingga membuat bekas yang dalam.




Singkat cerita Dayang Sumbi diusir dari kerajaan dan Sangkuriang pergi mengembara. Saat dewasa Sangkuriang terpesona dengan kecantikan ibunya sendiri. Ia memaksa untuk menikahi Dayang Sumbi. Mengetahui pria tampan itu anaknya, Dayang Sumbi akhirnya membuat syarat yang sangat sulit. Ia menyuruh Sangkuriang membuat bendungan di sepanjang bukit dan membuat perahu dalam waktu semalam. Mengetahui Sangkuriang akan berhasil, Dayang Sumbi melakukan berbagai cara untuk menggagalkan tantangan yang sedang dikerjakan.




Dan benar saja, tantangan itu akhirnya gagal, karena ayam terlanjur berkokok namun perahu tak kunjung kelar. Sangkuriang tahu jika ia sedang ditipu. Akhirnya untuk meluapkan amarahnya, ia menjebol bendungan hingga mengakibatkan banjir bandang. Perahu yang ia buat dilempar dan berubah jadi Gunung Tangkuban Perahu. Dayang Sumbi akhirnya meninggal dan hilang dalam banjir yang dibuat Sangkuriang.

Selasa, 04 Agustus 2015

Legenda Gunung Semeru

Legenda Gunung Semeru


Gunung paling tinggi di Pulau Jawa ini ternyata memiliki legenda yang sangat unik. Diceritakan bahwa dahulunya Pulau Jawa adalah pulau yang mengapung-apung di lautan lepas. Para dewa tahu itu dan akhirnya memutuskan memakunya agar diam dan tak terus terbawa arus laut. Mereka memaku Pulau Jawa dengan memindahkan Gunung Meru dari India menuju Jawa. Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi kura-kura raksasa dan Dewa Brahma berubah jadi Ular besar untuk mengikat gunung.




Akhirnya Gunung Meru itu sampai dan membuat Pulau Jawa diam. Orang Hindu di Jawa dan Bali percaya jika Gunung Meru yang serang bernama Semeru ini merupakan tempat persemayaman banyak Dewa. Selain itu, puncak Gunung merupakan gerbang yang menghubungkan dunia Dewa dan manusia. Saking sakralnya, masyarakat Hindu kerap melakukan upacara keagamaan di tempat ini. Anda boleh percaya atau tidak dengan legenda ini. Namun yang jelas, Gunung Semeru menyimpan banyak sekali keindahan yang tak bisa dilewatkan. Itulah mengapa gunung ini selalu menjadi tujuan pendakian yang menantang. Bahkan dijadikan seting pembuatan salah satu film nasional.

Senin, 03 Agustus 2015

Legenda Gunung Merapi

Legenda Gunung Merapi


Gunung Merapi memiliki banyak sekali versi legenda yang dipercaya oleh masyarakat sekitarnya. Namun yang paling dominan adalah adanya kerajaan gaib yang bersarang di puncak gunung. Para makhluk gaib ini dipercaya akan membawa petaka yang sangat besar kepada masyarakat di Yogyakarta. Itulah mengapa Keraton Yogyakarta selalu menunjuk salah satu abdi dalemnya untuk menjadi juru kunci gunung. Salah satu juru kunci yang paling terkenal adalah Mbak Maridjan yang meninggal saat erupsi Merapi beberapa tahun lalu.




Beberapa tempat di Gunung Merapi dijadikan tempat makhluk halus untuk tinggal. Sebut saja Pasar Bubrah, tempat ini dipercaya ramai saat malam karena para makhluk halus mulai keluar dan muncul. Selain itu ada tempat-tempat seperti Hutan Patuk Alap-Alap yang digunakan untuk penggembalaan ternak milik kerajaan gaib Merapi. Di waktu-waktu tertentu hewan gaib seperti macan putih, ular besar, dan lainnya kerap membuat orang yang mendaki harus lari terpontang-panting. Satu hal yang harus dipahami ketika ke Gunung Merapi: selalulah jaga hati, lisan, dan perbuatan.

Minggu, 02 Agustus 2015

Legenda Gunung Bromo

Legenda Gunung Bromo


Gunung Bromo adalah ikon pariwisata di Jawa Timur. Hampir setiap hari ada ratusan turis dari berbagai negara datang untuk menikmati keindahan gunung dan matahari terbit. Di balik keindahan ini, ternyata Bromo menyimpan legenda yang terus hidup hingga sekarang. Dahulu kala di Bromo hiduplah seorang pemuda bernama Joko Seger yang jatuh hati dengan gadis keturunan dewa bernama Rara Anteng. Mereka menjalin kasih hingga memutuskan akan menikah. Namun rencana itu harus terhenti karena ada orang jahat dan sakti yang mendadak melamar Rara Anteng.




Gadis cantik itu tak bisa menolak karena takut, namun ia membuat persyaratan kepada si pria jahat sebelum pernikahannya dilaksanakan. Rara Anteng menyuruhnya membuat lautan di Bromo dalam waktu semalam. Pria jahat itu menyanggupi, ia mengeruk tanah menggunakan batok kelapa semalaman. Rara Anteng takut jika lautan itu akan selesai sebelum ayam pertama berkokok. Akhirnya ia memukulkan alu seperti saat menumbuk padi. Mendengar bunyi tetabuhan itu ayam-ayam bangun. Si pria jahat akhirnya kalah, ia mengamuk dan melempar batok yang sekarang menjadi Gunung Batok.




Rara Anteng dan Jaka Seger akhirnya menikah. Namun mereka tak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya mereka melakukan pertapaan di gunung. Sebuah suara gaib terdengar dan bilang jika mereka akan memberi anak tapi anak pertama harus dikorbankan ke gunung. Rara Anteng dan Jaka Seger setuju. Mereka akhirnya dikaruniai 25 anak, namun ingkar janji karena tak tega anaknya dikorbankan. Akhirnya terjadilah bencana dan anak pertama mereka mati. Sejak saat itu budaya upacara Kasada mulai diadakan sebagai ganti pengorbanan manusia ke dalam gunung. Oh ya, nama Suku Tengger berasal dari singkatan Rara Anteng dan Jaka Seger.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Legenda Gunung Kelud

Legenda Gunung Kelud


Gunung Kelud memiliki legenda yang terus diturunkan dari mulut ke mulut. Alkisah ada seorang manusia berkepala sapi yang ingin menikahi gadis dari kerajaan Majapahit. Ia mengikuti berbagai sayembara dan akhirnya menang. Namun sayang, sang putri pujaan hati enggan menikahinya. Akhirnya sang putri meminta syarat kepada Lembu Sura, si manusia berkepala sapi untuk membuat sumur di puncak Gunung Kelud. Jika keinginan putri dipenuhi maka ia mau dinikahi. Tentu saja permintaan itu dipenuhi oleh Lembu Sura. Ia menggali gunung dengan culanya. Sang Putri akhirnya panik karena Lembu Sura akan berhasil. Akhirnya ia meminta ayahnya yang merupakan Prabu Brawijaya untuk mengubur lubang galian yang masih ada Lembu Sura di dalamnya.




Lembu Sura yang ada di dalam meminta tolong dan memohon untuk dikeluarkan. Namun ia harus menerima kenyataan jika mereka memang sengaja mengubur untuk melenyapkan di manusia berkepala sapi ini. Dengan sisa tenaga, akhirnya Lembu Sura mengutuk Kerajaan Majapahit dengan bunyi seperti ini: “Yoh, Kediri sesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping yaiku Kediri dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung.” (Ya, Kediri akan dapat balasanku berkali-kali, Kediri jadi sungai, Blitar jadi daratan, dan Tulungagung jadi perairan dalam.)




Dan benar juga, Kelud terus meletus dan membumihanguskan kerajaan. Jika anda datang melihat Gunung Kelud, patung Lembu Sura akan menyambut anda dengan gagahnya. Pemerintah setempat sengaja membuatnya untuk persembahan. Jika kondisi Kelud mulai panas, biasanya pemerintah Blitar atau Kediri melakukan upacara larung sesaji agar “Lembu Sura” tidak mengamuk lagi.